Kisah Singkat Perjalanan Gadis Itu sampai Detik Ini

30 Aug 2012

ria

Lahir dalam heningnya malam, saat itu seorang ibu sedang menantikan anak ke sepuluhnya. Ya, anak ke-se-pu-luh-nya. Sebuah perjuangan besar, meski sudah mengalami 9 persalinan sebelumnya. Saat itu hujan lebat, kilat menyambar-nyambar. Di dalam rumah tua hanya dengan lampu teplok yang menempel didinding. Seorang dukun bayi [semacam bidan desa] yang sengaja datang langsung ke rumah itu.

Tengah malam di malam itu. Lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik, tangisannya membuat suasana hangat dinginnya malam itu. Sekitar jam 11 malam lebih dia mulai merasakan nikmatnya bernafas dengan oksigen di tengah tangisnya.

ria

Tahun silih berganti, bayi perempuan ini mulai masuk Taman Kanak-kanak di kampungnya. TK Kusuma Mulia 1 Pare. sebuah TK kecilyang berada di tengah-tengah perkampungan penduduk. Meski TK ini kecil, namun telah melahirkan kaum muda yang sukses-sukses. Amiin..

Seperti anak TK pada umumnya, sedikit manja, namun prestasinya cukup lumayan meski selalu menduduki peringkat 3 sampai TK O Besar.

Ketika berusia 7 tahun, saatnya gadis cilik itu memasuki Sekolah Dasar. Masuk di SD yang sudah menjadi langganan keluarganya. Karena kebanyakan kakaknya jebolan SD ini. Awal masuk SD diisinya dengan mencari teman sebanyak-banyaknya. Menyenangkan. Dia merasa senang memiliki banyak teman. Dia mulai semangat belajar, mulai dari melancarkan membaca dan berhitung. Sampai di Cawu pertamanya di SD diaberhasil masuk 3 oeringkat terbaik di kelas.

Namun, di tengah suatu pencapaian awal prestasi yang membanggakan, saat itu di tahun 1999, saat gadis itu dikelas 1 SD di cawu terakhir. Cobaan besar melanda keluarganya. Ayahnya meninggal dunia disebabkan penyakit yang telah menggerogoti tubuhnya. Ya, kini gadis cilik yang lincah itu kehilangan sosok terpenting dalam hidupnya.

Entah apa yang ada dalam benak gadis cilik itu, dia masih sangat kecil. Meski memilii banyak saudara, kesepian pasti dia rasakan. Rasa iri melihat teman-temannya di antar dan di jemput ayahnya dengan kecupan sayang di dahi teman-temannya pastilah membuatnya iri.

Tahun silih berganti. Setiap kenaikan kelas, ia selalu menjadi juara pertama. Namun, berhenti saat kelas 5 SD, prestasinya turun. Ia mulai menjadi gadis cilik yang mandiri namun masih diselimuti rasa iri dengan teman-temannya. Meskipun iri dengan teman-temannya, ia selalu mencoba untuk menghilangkannya dan hidup lebih baik lagi..

Bersama teman-teman saat MTs dulu..

Bersama teman-teman saat MTs dulu..

Menginjak remaja, ia mulai memasuki Madrasah Tsanawiyah Negeri favorit di kabupatennya. Masuk di MTs ini adalah bisa dibilang butuh perjuangan ekstra. Melewati berbagai tes akhirnya bisa membuatnya bersekolah disini. Tentu dengan iringan doa ibunya yang tak kunjung berhenti.

Prestasinya cukup lumayan, lagi-lagi selalu masuk 3 besar peringkat terbaik di sekolahnya. Meski tidak diikutkan berbagai olimpiade saat MTs, namun masuk 3 besar terbaik adalah sensasi tersendiri baginya. Padahal saat itu ia mulai mandiri. Mulai membantu kakak-kakaknya dengan paling tidak meminimalisir uang jajannya. Ia mulai berjualan makanan ringan. Setiap harinya dikelas 7 ia harus membawa 2 kantong besar makanan ringan dengan mengayuh sepeda usangnya, untuk dijual kepada teman-temannya. Kamu bisa melihat kisahnya disini.

ria

Berlanjut di kisahnya saat SMA. Masuk SMA favorit adalah suatu kebanggan bagi dia dan keluarganya. Apalagi dia masuk di kelas unggulan. Dia mulai aktif dalam berbagai kegiatan. Prestasnya cukup lumayan. Masuk dalam 10 peringkat terbaik di kelas unggulan itu sudha sangat cukup baginya. Mencari beasiswa sana sini ditengah berbagaikegiatan ia lakoni. Mulai berjualan pulsaia lakukan agar ia tetap memiliki uang saku, karena uang sakunya terpaksa dihentikan karena biaya SMA yang lumayan besar.

Saat kelas 2, ia mewakili SMA nya untuk mulai ikut beberapa olimpiade kimia. Meskipun hasilnya NOTHING. Tapi ia sudah cukup senang bisa mewakili SMAnya.

Saat kelas 3 SMA, ia serius mulai ingin melanjutkan ke janjang yang lebih atas. Ia mulai ingin kuliah. Terus belajar adalah solusinya. Inilah perjuangan. Meski entah ia bisa kuliah dimana adalah urusan belakang. Yang penting ia lulus dengan nilai memuaskan dan mulai mencari beasiswa untuknya.

Dan alhamdulillah, ia memperoleh beasiswa di sebuah Universitas Negeri satu-satunya di Madura. Bisa kuliah lagi-lagi adalah anugrah dan kebanggaan baginya dan keluarganya. Maklum, kakak-kakaknya lulus SMA langsung bekerja. Meskipun, kuliah di kampusnya ini terkadang bahkan sering kali disindir-i oleh kawan-kawannya.Namun, gadis ini tetap tersenyum semangat dan bersyukur. Dan kini di hari lahirnya, 30 Agustus di tengah malam, ia telah memasuki satu tahun menimba ilmu sebanyak-banyaknya di Madura.

Gadis yang mulai beranjak dewasa ini bertekad dan bersungguh-sungguh dengan nama Allah bahwa melalui kampus inilah ia akan sukses, berhasil dan bisa membawa IBU-nya ke Tanah Suci Mekkah untuk berkunjung ke Rumah Allah.. Amiin :)


TAGS Kisah hidup biografi RIA LYZARA


-

Author

Follow Me