Dalam Dekapan KKN Kita Berjalan Bersama

21 Aug 2014

kknSebuah pengabdian. Beban Moral. Liburan. Sejarah. Persaudaraan. Bermanfaat. Atau mungkin hanya karena sebuah nilai dari mata kuliah wajib?

Pertanyaan itu menghantui saya setiap ada senior saya yang berangkat KKN. Saya penasaran dengan hasil dari KKN. Kuliah Kerja Nyata. Hidup satu bulan dengan orang-orang yang baru. Ah, sepertinya tak sulit bagi saya. Karena saya tipikal orang yang mudah beradaptasi. Tapi, sebenarnya hasil dari KKN itu apa? Pernyataan-pernyataan seperti susah air, hidup gersang, jauh dari keramaian/kota, bakalan capek dan sibuk, tidak ada internet, jarang buka laptop, hemat listrik atau bahkan tidak ada listrik, dan berbagai pernyataan menakutkan itu hanya terlintas sejenak.

Apakah nanti KKn saya akan menjadi sebuah pengabdian, atau hanya pelampiasan beban moral, hanya sekedar liburan ke sebuah desa, akan menjadi torehan sejarah bagi saya dan desa tersebut, akan terciptanya tali persaudaraan baru, bermanfaat bagi masyarakat desa, atau mungkin hanya untk mendapatkan sebuah nilai dari mata kuliah wajib ini? Pertanyaan inilah yang semakin membuat penasaran saya, bagaimana KKN saya kelak. Ya, kini saya telah merasakannya.

KKN UTM Kelompok 31

KKN

Awalnya saya merasa asing saat kami janjian bersepakat melalui sms akan bertemu, kenalan dan sedikit diskusi tentang planning KKN di desa (yang pada saat itu kami belum tau desa apa, karena nama desa akan diundi 2 pekan setelah pengumuman kelompok diumumkan). Tentu asing, karena tak satupun dari mereka yang saya kenal. Ada beberapa wajah yang tak asing sich sebenarnya, ya mungkin karena mereka aktivis yang sering mengukur jalan keliling di kampus.

Singkat cerita kami akhirnya mengenal satu sama lain dari beberapa pertemuan kami. Hanya sekedar kenal nama, asal dan jurusan masing-masing, serta sekilas karakter dari setiap diskusi yang kami lakukan. Dari beberapa diskusi inilah saya merasa, ah, sepertinya banyak orang yang terlalu sok menonjol. Ya, itu yang sekilas saya dapat dari beberapa diskusi kami. Haha, sepertinya saya terlalu suudzon. Sampai-sampai saya berniat menjadi anak yang gak aktif, cuek, kalo bukan tugas saya maka saya gak akan bantu kerjakan selama KKN nanti dan beberapa niat buruk yang sebenarnya BUKAN SAYA banget.

catatanDan apakah saya bisa menjadi orang yang bukan saya itu?haha.. ternyata TIDAK BISA. Semua itu karena baru sehari di desa tersebut, saya sudah menemukan karakter mereka sebenarnya. Berubahlah niat buruk saya tersebut.hehe, sampai-sampai saat malam tiba saya menulis di buku special saya yang memang saya siapkan untuk KKN. Niatnya selama masa cuek, gak peduli, gak aktif saya itu, saya bakalan nulis aja. Eh ternyata gak bisa. Ya, karena itu bukan saya. Jadi, dalam sebulan KKN , saya hanya menulis selembar saja. Hari pertama dan itu merupakan pembaharuan niat saya KKN. Niat baru di hari pertama di sebuah desa dan teman-teman baru yang membuat saya terkesan. *saya malu banget udah niat buruk

Desa Tagungguh, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura

desa tagungguh

Sebuah desa yang konon kat sang kordes (koordinator desa alias ketua tim) pelosok, tidak ada air, dan desa bangetlah intinya.

Dan ternyata itu hanya bualan sang kordes.hehe, Ternyata desa Tagunggu tak se-ndesa yang saya pikirkan. Saya sudah sedia tissue basah banyak banget, takut tidak ada air untuk mandi. Ternyata tidak. Kebetulan tempat kami tinggal, tepatnya di balai desa airnya ada, cukup, segar dan alami. Ternyata ada sumur pemerintah disitu. Meskipun begitu, masih banyak penduduk desa ini yang memilih di mencukupi kebutuhan air di sungai-sungai kecil.

desa tagungguh

Desa Tagungguh ini terdiri dari 8 dusun, diantaranya adalah Larangan, Tengginah, Larangan Barat, Pacenan, Sodin/Masjid, Guah, Rojing dan Paceleng. Saya dan rekan saya mendapatkan mandat, salah satu tugas kami untuk membuat peta desa.

Selain desa ini yang masih begitu asri dan nyaman, masyarakat disini sangat ramah. Saya akan membuat postingan khusus tentang mereka :D

Dan Kami Berjalan Bersama

Kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian
Hanya saja
Ada yang terkurung di ruang gelap tanpa cahaya
Sementara yang lain menghuni kamar berjendela Kahlil Gibran-

kkn bersama

Setiap orang memiliki prespeksi tersendiri saat membaca setiap kata dari Kahlil Gibran. Termasuk saya dan mungkin anda. Semua orang sama, terpenjara dalam kesendirian. Dalam salah satu bab di buku karya Salim A.Fillah yang pernah saya baca , ada sebuah penelitian bahwasanya satu-satunya alasan kita menjalin hubungan dengan orang lain adalah demi kepentingan pribadi. Benarkah? Sebegitu mirisnya anggapan tentang sebuah kebersamaan.

Atau mungkin seperti teori Darwin? Sebuah hubungan adalah persaingan yang terus-menerus dan yang paling baik/kuatlah yang lama bertahan?

Masih dalam buku yang sama, ada penelitian-penelitian baru yang mendobrak anggapan yang menggelisahkan tersebut. Upaya kerja sama/ bersama bukanlah hasil dari rasa kesendirian. Upaya kerjasama/ bersama adalah mengarah pada terciptanya banyak hal positif (kalau dalam buku beliau bahasanya sangat kompleks singkatnya begitu). Hematnya, suatu hubungan dengan kerjasama/ bersama akan menciptakan suatu kekuatan, suatu hubungan yang indah, cantik, dan saling menguatkan.

Seperti halnya kelompok kami. Kelompok 31. Kami berjalan bersama. Tujuannya tentu segala hal positif akan mengiringi kami dalam setiap jengkal kami berjalan. Iya, kami saat itu sedang terpenjara. Tapi bukan dalam kesendirian. Terpenjara dalam dekapan sebuah desa tangguh yang mengajarkan arti kebersamaan kepada saya dan tentu kepada teman-teman satu kelompok :)

kkn

Banyak hal yang ingin saya ceritakan. Banyak makna kehidupan yang saya dapat. Dan banyak postingan yang ingin segera saya selesaikan tentang kebersamaan bersama mereka.


TAGS kuliah kerja nyata makna kebersamaan


-

Author

Follow Me