Belajar Prinsip Dasar Sistem Keuangan Syariah dari Rasulullah

28 Jun 2016

“Zaman sekarang, mau jualan apapun pokoknya membawa nama Islam, pasti laku!”

Sebuah “guyonan” yang membuat saya miris. Bagaimana agama yang sebetulnya sebagai suatu kepercayaan yang sakral, menjadi celetukan yang membuat hati miris meskipun sebetulnya itu memang fakta adanya. Sebagai seorang konsumen, memang iya benar adanya, saya akan lebih tertarik dengan suatu produk yang berlabel Islami. Meskipun begitu hati masih berontak kalau ada pernyataan bahwasanya apapun yang dijual jaman sekarang dengan label Islam pasti akan laku. Seakan-akan, Islam, agama yang membawa rahmat ini merupakan agama yang bisa digunakan dengan begitu murahnya.

Melalui Al Quran, Allah memberikan petunjuk bagi kita sebagai seseorang yang memeluk agama Islam. Semua yang ada di muka bumi ini, manual-nya ada didalamnya. Termasuk tentang jual-beli. Membeli produk yang membawa nama Islam namun ternyata tidak sesuai dengan aturan Islam juga hasilnya tidak barokah, begitu pula dengan menjualnya. Jika dipelajari dalam kaidah Islam, hal ini termasuk pada Bab Muamalah. Dalam bab ini tidak hanya jual-beli yang dibahas, namun masih banyak pula kegiatan kita sebagai makhluk sosial yang diatur didalamnya. Misalnya soal pinjam-meminjam dan sewa-menyewa yang kita lakukan baik antar individu ataupun antara individu dan lembaga.

Aturan ber-Muamalah ada dalam Al Quran dan Hadist

Ramadhan malam ke-21 kemaren, saya mengikuti kajian sehabis tarawih di Masjid.  Kali ini giliran K.H Masykur Al Hafidz yang memberikan tausiyah kepada warga kampung. Ada dua cahaya yang diberikan Allah ke dunia, NururRamadhan yang merupakan syayidishuhur atau rajanya bulan dan juga An Nur Al Quran. Nah, Al Quran ini diturunkan sebagai hidayah dan hadiah untuk kaum muslim. Hidayah ini sebagai petunjuk, dan sebagai hadiah bahwasanya apapun yang ada di dunia ini sudah ada dalam Al Quran, maka kita bisa belajar melaluinya maka jalan hidup kita akan begitu indah dan damai. Bahkan dengan ijin Allah, kita bisa sembuh dari sakit dengan berdoa dan membaca beberapa ayat di Al Quran.

Begitu pula tentang Muamalah. Allah dengan jelas menyebutkan beberapa ayat terkait hal ini. Mulai dari anjuran-anjuran dan larangan-larangan dalam muamalah menurut konsep islam.

Contohnya adalah terkait larangan melakukan Riba yang disebutkan di beberapa surat seperti di surat Ali Imron ayat 130 yang artinya sebagai berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Allah juga menyebutkan tentang Riba dalam Q.S Al Baqarah: 275-276, Q.S Al Baqarah :278:279, dilanjutkan dalam Q.S An Nisa:161 dan ada juga diperkuat larangan untuk melakukan Riba dalam beberapa hadist.

Rasulullah sebagai pembawa risalah juga merupakan suri tauladan bagi kita. Allah menyebutkan dalam Q.S Al Ahzab ayat 21 yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Maka penting juga bagi kita mempelajari prinsip-prinsip kehidupan yang ada pada diri Rasulullah, termasuk tentang prinsip beliau dalam mengatur perdagangan dan bermuamalah lainnya.

Empat prinsip Dasar Keuangan Syariah

Seperti yang saya sebut diatas, penting bagi kita mempelajari prinsip dasar mengatur keuangan secara islami sebagai implementasi dasar muamalah. Ada empat dasar prinsip keuangan syariah yang saya pelajari dari web/blog gerakan aku cinta keuangan syariah, sebuah programsosialisasi dan edukasi keuangan syariah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dan ternyata setelah saya baca, empat dasar keungan syariah ini benar-benar mengacu pada gaya hidup Rasulullah. Adapun empat prinsip dasar keuangan syariah sebagai berikut :

  1. Ethical

Menjaga etika sangatlah penting dalam prinsip dasar keuangan Islam. Bahkan aspek utama dalam agama kita telah menekankan kepada kita pentingnya akhlaq mulia dalam berbagai aktifitas kehidupan. Allah telah memberikan contoh bahwa Rasulullah adalah suri tauladan yang baik. Akhlaq beliau jangan diragukan lagi. Bahkan dalam literature sejarah, sebelum masa kenabiannya, Muhammad SAW mendapatkan gelar al Amin dan ash Shidiq, karena beliau begitu sangat dipercaya, benar dan jujur dalam perkataannya. Nah, dalam kegiatan ekonomi, kejujuran juga merupakan hal yang sangat penting. Jujur adalah salah satu contohnya. Dengan kejujuran dan kepiawaiannya, Rasulullah mampu menjual barang-barang dagangan Khadijah dengan keuntungan yang lebih besar dibandingkan orang lain. Rasulullah dengan jujur menjelaskan kepada pembeli jika memang ada barang yang cacat. Cara berdagang Rasulullah yang jujur, adil dan sangat menjaga hubungan baik inilah yang patut kita contoh dalam sistem keuangan syariah.

  1. Partnership

Dalam keuangan syariah ditekankan pentingnya rasa persaudaraan dan keadilan pada berbagai pihak. Untuk menjunjung tinggi keadilan, agama kita telah menyediakan berbagai jenis akad yang dapat kita gunakan dalam kegiatan ekonomi dengan mempertimbangkan aspek keadilan baik dari segi keuntungan maupun kerugian. Dalam ensiklopedia Nabi Muhammad, Rasulullah bersabda, “Keberkahan sesungguhnya berada dalam jamaah. Dan tangan Allah sesungguhya bersama jamaah.” Dalam buku ini, jamaah dalam dunia bisnis bisa diartikan dengan sinergisme. Adanya sinergi/kerjasama/partnership dalam sebuah bisnis.

  1. Real Activities

Diriwayatkan oleh Jabir, ia berkata, “Rasulullah SAW melarang kami menjual buah-buahan sebelum matang. (HR. Muslim No.2831)

Keterkaitan antara sektor riil dan finansial adalah prinsip dasar selanjutnya yang musti ada dalam sistem keuangan syariah. Seperti yang dijelaskan pada hadist diatas. Bahwasanya Rasul melarang umatnya untuk membeli buah yang belum matang. Kondisi buah tersebut belum tentu matang sempurna saat dipetik, kondisi riil-nya belum diketahui dengan pasti. Begitu pula yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Rasulullah melarang buah-buahan sebelum tampak jadinya. Beliau melarang pihak penjual dan pembeli. (HR. Muslim No.2827)

  1. Based on Good Governance

Transparansi dan kejelasan dalam kegiatan ekonomi adalah prinsip dasar yang juga kudu diperhatikan dalam sistem keuangan syariah. Dalam syariah ditekankan pentingnya suatu akad dalam segala aspek transaksi kegiatan. Begitu juga dengan membayarkan gaji pegawai kita. Sesuai dengan kesepakatan atau kontrak kerja, jika dalam kesepakatan gaji pegawai akan diberikan disetiap akhir bulan, maka pada akhir bulan harus segera dibayarkan gajinya. Rasulullah SAW bersabda “Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezaliman” (HR Bukhari Muslim).

Dengan menerapkan empat prinsip dasar keuangan syariah ini, insyaAllah kedamaian dan rahmat akan kita rasakan dalam segala aspek kehidupan, terutama dalam kegiatan ekonomi.

 


TAGS Lomba Blog PUASA OJK Otoritas Jasa Keuangan Sistem Keuangan Syariah


-

Author

Follow Me